240 Personel dan Hujan Buatan Dikerahkan Cegah Asap Masuk Permukiman
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Api kembali menguji ketangguhan Riau. Di tengah cuaca kering yang tak kunjung berubah selama hampir 20 hari terakhir, kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muncul di sejumlah titik dan bergerak cepat diterpa angin. Situasi di lapangan pun disebut sangat dinamis. Pemerintah tak ingin kecolongan. Strategi besar segera digelar: lokalisasi ketat titik api agar tak meluas dan mencegah kabut asap kembali menyergap permukiman warga.
Kementerian Kehutanan memastikan upaya pemadaman terus diintensifkan. Fokus utama saat ini bukan sekadar memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi memutus jalur perambatan agar kebakaran tidak menjalar ke area yang lebih luas.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menggambarkan kondisi di lapangan penuh tantangan. Kombinasi cuaca panas, angin kencang, dan lahan gambut yang sangat kering membuat api mudah menjalar dan sulit dipadamkan secara total.
“Strategi utama saat ini adalah menahan pergerakan api agar tidak memperluas area terdampak. Pengerahan personel dan dukungan lintas wilayah kami lakukan secara terukur,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (17/02/2026).
Operasi besar pun digelar. Sedikitnya 160 personel Manggala Agni diterjunkan untuk pemadaman langsung di titik-titik api. Sementara 80 personel lainnya disiagakan khusus untuk patroli rutin dan deteksi dini kemunculan hotspot baru. Total 240 personel bergerak di lapangan, berjibaku dengan asap tebal dan bara api yang kadang tersembunyi di bawah permukaan tanah.
Mereka tidak bekerja sendiri. Unsur gabungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, TNI, Polri, hingga BPBD daerah turun bersama memastikan koordinasi berjalan selaras. Di lapangan, kerja tim menjadi kunci, terutama ketika api berada di kawasan sulit dijangkau.
Mobilisasi tambahan pun dilakukan. Regu dari Daops Rengat digeser ke Pulau Mendol, Pelalawan. Personel dari Daops Siak dikirim membantu Bengkalis. Bahkan dukungan dari luar provinsi turut diterjunkan, yakni Daops Bukit Tempurung, Jambi, yang diperbantukan ke Dumai. Pergerakan ini dilakukan cepat demi memperkuat barisan di titik-titik krusial.
Titik kebakaran saat ini teridentifikasi tersebar di Kampar, Bengkalis, Siak, dan Pelalawan. Lahan yang terbakar memiliki status beragam: Hutan Produksi, Kawasan Konservasi, hingga Areal Penggunaan Lain. Beberapa lokasi bahkan berada sangat dekat dengan kebun sawit milik masyarakat maupun perusahaan, serta berbatasan langsung dengan permukiman warga. Ancaman asap yang bisa masuk ke rumah-rumah penduduk menjadi kekhawatiran utama.
Tantangan terbesar justru datang dari bawah tanah. Data di lapangan menunjukkan muka air tanah gambut berada pada posisi minus sekitar 90 sentimeter. Artinya, lapisan gambut sangat kering dan mudah terbakar. Api bisa merambat di bawah permukaan, tak terlihat, namun tetap menyala dan muncul kembali di tempat lain. Inilah yang membuat pemadaman manual menjadi jauh lebih sulit.
Selain faktor alam, dugaan penyebab kebakaran di sejumlah lokasi mengarah pada aktivitas manusia. Ada indikasi pembersihan lahan dengan cara membakar sisa vegetasi yang kemudian tak terkendali akibat angin kencang. Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran dalam bentuk apa pun, terutama di tengah kondisi rawan seperti sekarang.
Untuk mempercepat penanganan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) digencarkan. Satu unit pesawat Cessna Grand Caravan C208 diterbangkan untuk menyemai satu ton garam di wilayah Siak dan Pekanbaru. Harapannya, hujan buatan dapat membantu membasahi lahan yang minim sumber air dan sulit diakses tim darat.
Langkah-langkah ini diperkuat dengan penetapan Status Siaga Darurat Karhutla oleh Pemerintah Provinsi Riau melalui SK Nomor 102/2026 yang berlaku hingga 30 November. Dalam waktu dekat, struktur Satgas Karhutla akan kembali dibentuk guna memperkuat koordinasi dan membuka peluang dukungan tambahan dari pemerintah pusat.
Perang melawan api masih jauh dari kata usai. Namun dengan strategi terukur, dukungan lintas lembaga, dan partisipasi masyarakat, harapannya Riau bisa terhindar dari bencana asap besar seperti tahun-tahun kelam sebelumnya.*03*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar