Ramadan Datang, Pengemis Membanjir di Persimpangan Jalan!
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Lampu merah baru saja menyala di persimpangan padat Kota Pekanbaru. Deretan kendaraan mengerem perlahan. Beberapa pengendara membuka kaca jendela, setelah tangan-tangan kecil dan kaleng plastik mulai mengetuk pintu mobil. Pemandangan seperti ini hampir selalu muncul setiap menjelang Ramadhan.
Bagi sebagian orang, itu adalah momen berbagi. Namun bagi pemerintah kota, fenomena ini justru menjadi alarm masalah sosial yang berulang tiap tahun.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Melalui Dinas Sosial Kota Pekanbaru, warga kini diminta tegas: jangan lagi memberi uang kepada gelandangan dan pengemis (gepeng) di jalanan. Imbauan ini disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinsos, Junaedy. “Kami juga imbau warga agar jangan memberi uang kepada gelandangan dan pengemis,” ujarnya di Pekanbaru, Rabu (18/02/2026).
Menurutnya, niat baik masyarakat sering kali berdampak sebaliknya. Uang receh yang diberikan di lampu merah justru membuat aktivitas mengemis semakin menjamur. Para pengemis tidak terdorong mencari pekerjaan atau mengikuti pembinaan karena merasa jalanan sudah cukup menjanjikan.
Fenomena ini bahkan memiliki pola tahunan. Setiap mendekati bulan puasa, jumlah pengemis melonjak drastis. “Jumlahnya bisa dua sampai tiga kali lipat dari hari biasa,” ungkap Junaedy.
Sebagian datang dari luar daerah. Mereka seolah “bermigrasi” menuju kota yang dianggap ramah sedekah. Titik paling ramai adalah kawasan Simpang Mal SKA, lokasi strategis dengan lalu lintas padat dan pusat keramaian. Dalam hitungan menit, satu orang bisa mendapatkan uang dari banyak kendaraan.
Namun kondisi tersebut bukan hanya mengganggu ketertiban kota. Risiko kecelakaan juga meningkat. Pengemis berjalan di sela kendaraan bergerak, sementara pengendara tiba-tiba berhenti atau membuka pintu.
Untuk mengantisipasi ledakan jumlah gepeng menjelang Ramadan 1447 H, pemerintah kota menurunkan tim khusus. Satuan Tugas Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial akan menyisir jalan protokol setiap hari.
Tim bekerja dalam dua pola, mobile dan penjagaan stasioner. Beberapa titik prioritas antara lain Simpang Mal SKA, persimpangan Jalan Imam Munandar-Sudirman, Tuanku Tambusai-Sudirman, Simpang Garuda Sakti, hingga kawasan Kantor Gubernur Riau dan Jalan Ahmad Yani.
Operasi ini melibatkan kerja sama dengan Satpol PP Pekanbaru untuk memperkuat penertiban. Para pengemis yang terjaring akan diamankan dan diarahkan ke pembinaan sosial.
Namun pemerintah menegaskan, razia saja tidak cukup. Kunci utama ada pada masyarakat. Selama masih ada uang diberikan di jalan, selama itu pula aktivitas mengemis akan terus hidup. Karena itu, warga diminta menyalurkan sedekah melalui lembaga resmi agar benar-benar membantu, bukan sekadar memberi sesaat.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum memperbaiki kehidupan, bukan mempertahankan ketergantungan. Pemerintah berharap kebiasaan baru bisa terbentuk: tetap berbagi, tetapi dengan cara yang lebih bijak.
Di persimpangan kota nanti, mungkin masih ada tangan terulur. Bedanya, keputusan ada di tangan masyarakat, memperpanjang siklus, atau membantu mengakhirinya. *03*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar