Uniknya Tradisi Ramadan, Mulai Dari Dentuman Mariam Hingga Mudik
RIAUKU.COM - Ramadhan selalu datang dengan suasana yang sama: bulan suci, waktu menahan diri, dan momen memperbanyak ibadah. Namun siapa sangka, cara menyambut dan menjalani Ramadhan di berbagai belahan dunia ternyata sangat beragam, bahkan penuh kejutan.
Meski awal puasa dimulai serentak pada 1 Ramadhan dalam kalender Hijriah, perbedaan letak geografis, budaya, hingga kondisi alam membuat pengalaman berpuasa di tiap negara terasa berbeda.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Salah satu fakta paling mencolok adalah soal durasi puasa. Di wilayah seperti Greenland, umat Muslim bisa berpuasa hingga hampir 18 jam karena panjangnya siang hari. Sebaliknya, di Selandia Baru, waktu berpuasa relatif lebih singkat, sekitar 12 jam. Perbedaan ini murni dipengaruhi posisi geografis terhadap garis khatulistiwa.
Di Indonesia, tradisi mudik menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan menjelang Idul Fitri. Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk merayakan lebaran bersama keluarga. Tradisi membangunkan sahur pun punya warna tersendiri, mulai dari pengeras suara masjid hingga tabuhan alat sederhana keliling kampung.
Namun di negara lain, cara membangunkan sahur bisa jauh lebih unik. Di Turki, ribuan penabuh genderang mengenakan pakaian khas Ottoman berkeliling kota memainkan davul untuk membangunkan warga. Sementara di Lebanon, dentuman meriam yang dikenal sebagai Midfa Al-Iftar menjadi penanda waktu berbuka.
Di Arab Saudi, suasana Ramadhan identik dengan membludaknya jamaah umrah. Kota-kota suci dipenuhi peziarah yang ingin merasakan ibadah di bulan penuh berkah. Lentera warna-warni juga menghiasi jalanan di Mesir, tradisi yang sudah ada sejak era kekhalifahan untuk menyambut bulan suci dengan cahaya dan kegembiraan.
Sementara itu di Qatar, ada Festival Garangao yang digelar pertengahan Ramadhan. Anak-anak mengenakan pakaian tradisional dan berkeliling membagikan keceriaan sambil menerima permen dari warga.
Tradisi serupa juga hadir di Uni Emirat Arab dan Kuwait lewat perayaan Haq Laila. Anak-anak mengetuk pintu rumah tetangga untuk mendapatkan manisan, dua pekan sebelum Ramadhan tiba.
Di Turki, menu berbuka pun khas: zaitun, keju, roti pide, hingga hidangan manis gullac. Sedangkan di Rusia, roti hitam dan minuman fermentasi kvass menjadi sajian khas berbuka.
Lebih unik lagi di Iran, sebagian masyarakat utara menjalani puasa tiga hari sebelum Ramadhan sebagai persiapan spiritual. Ada pula tradisi menjahit tas berisi uang yang diyakini membawa keberkahan.
Di Pakistan, malam menjelang Idul Fitri dikenal sebagai Chaand Raat, ketika pasar penuh warna, gelang, pakaian baru, dan suasana perayaan yang semarak.
Sementara di Maroko, seorang nafar, penjaga kota berpakaian tradisional, berkeliling meniup terompet untuk membangunkan warga sahur. Nafar dipilih oleh warga. *03*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar