Kapolda Riau Susur Sungai Pantau Hutan Mangrove dan Kampung Tradisional

Kapolda dan Wakapolda Riau didampingi Bupati Kepulauan Meranti menyusuri sungai lihat dari dekat hutan Mangrove dan Desa Bokor di Kepulauan Meranti. (ist)

KEPULAUAN MERANTI, RIAUKU.COM — Pemandangan tak lazim terlihat di Desa Bokor, Kecamatan Rangsang Barat, Selasa (17/02/2026). Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan bukan sekadar datang menghadiri acara, tetapi ikut menaiki perahu menyusuri aliran sungai yang membelah kampung pesisir itu.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan “Susur Sungai Jelajah Kampung”, sebuah agenda yang menggabungkan wisata alam, budaya, dan edukasi lingkungan dalam satu rangkaian pengalaman.

Perahu yang membawa rombongan perlahan bergerak di antara rimbunnya hutan mangrove. Air sungai tampak tenang, sementara di tepian terlihat kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi pesisir. Di sinilah daya tarik Desa Bokor, alamnya masih terjaga, dan budayanya tetap hidup.

Kapolda Riau sengaja turun langsung ke lapangan untuk melihat potensi itu dari dekat. Bukan hanya laporan di meja, tetapi realitas yang bisa dirasakan sendiri.

Ia didampingi Wakapolda Riau Brigjen Pol Hengki Haryadi serta sejumlah pejabat utama Polda Riau, di antaranya Kabid Humas Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, Dirkrimum Kombes Pol Hasyim Risahondua, dan Dirpolair Kombes Pol Apri Fajar Hermanto.

Turut hadir Bupati Kepulauan Meranti H. Asmar, unsur Forkopimda, Ketua Pengadilan Negeri Bengkalis, Kepala Kejaksaan Negeri Kepulauan Meranti, Kepala Lembaga Pemasyarakatan, hingga perwakilan KSOP Selatpanjang. Kehadiran banyak pihak itu menunjukkan kegiatan ini bukan sekadar wisata, tetapi bagian dari upaya bersama membangun daerah.

Desa Bokor sendiri dikenal sebagai desa wisata budaya. Pengunjung diajak menyusuri sungai sambil menyaksikan kehidupan masyarakat lokal, mulai dari aktivitas nelayan, rumah panggung tradisional, hingga hutan mangrove yang masih lestari.

Irjen Herry mengatakan kawasan seperti ini merupakan aset penting bagi daerah. Menurutnya, mangrove bukan hanya hutan biasa. Ia menjadi pelindung alami pesisir dari abrasi, tempat hidup berbagai biota, sekaligus sumber ekonomi masyarakat. Karena itu, pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan warga harus berjalan beriringan.

Ia menilai ekowisata bisa menjadi solusi pembangunan berkelanjutan. Ketika alam dijaga, wisata tumbuh. Saat wisata berkembang, ekonomi masyarakat ikut bergerak. Dan ketika masyarakat merasakan manfaatnya, kesadaran menjaga lingkungan akan terbentuk dengan sendirinya. Pendekatan inilah yang ingin didorong di wilayah pesisir Kepulauan Meranti. 

Kegiatan susur sungai juga menjadi ruang interaksi antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Tidak ada sekat formalitas. Semua menyatu dalam perjalanan air yang sama.

Melalui kegiatan ini, diharapkan sinergi semakin kuat. Polisi tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga mitra masyarakat dalam menjaga keamanan, lingkungan, dan kesejahteraan.

Kehadiran Kapolda Riau di Desa Bokor menjadi simbol pendekatan humanis, pembangunan tidak selalu dimulai dari gedung dan beton, tetapi dari alam dan budaya yang dijaga bersama.

Jika potensi ini terus dikembangkan, bukan tidak mungkin Desa Bokor akan dikenal luas sebagai destinasi ekowisata unggulan. Tempat di mana hutan mangrove, tradisi, dan kehidupan masyarakat pesisir berpadu menjadi pengalaman yang tak ditemukan di kota. *son/03*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.