Begitu Tiba, Pesawat Bantuan BNPB Langsung Semai Garam di Lokasi Karhutla

Pesawat BNPB Cessna Grand Caravan 208B registrasi PK-AKR. (dok)

PEKANBARU, RIAUKU.COM - Deru baling-baling memecah udara siang di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Senin (16/2/2026). Sebuah pesawat kecil namun sarat harapan mendarat mulus sekitar pukul 12.15 WIB. Pesawat itu adalah Cessna Grand Caravan 208B registrasi PK-AKR, bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang langsung ditugaskan menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kedatangannya bukan sekadar tambahan armada. Riau sedang siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Waktu menjadi faktor krusial, dan hujan menjadi kebutuhan mendesak. 

Kabid Kedaruratan BPBD Damkar Riau Jim Gafur mengatakan, pesawat ini mampu membawa hingga 1.000 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl) sekali terbang. Tanpa menunggu lama, pesawat langsung bergerak menuju pesisir timur Riau untuk menebar garam ke awan potensial. “Begitu tiba, pesawat langsung melakukan penyemaian garam di wilayah yang masih terjadi kebakaran,” ujarnya.

Total bahan semai yang disiapkan mencapai 8.500 kilogram. Selama sekitar satu pekan ke depan, langit Riau akan menjadi arena operasi sunyi: garam ditebar, awan dipancing, hujan diharapkan turun. Targetnya bukan hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi juga membasahi lahan gambut agar bara tak muncul kembali.

Operasi ini dipercepat karena titik api masih ditemukan di tiga wilayah: Kabupaten Bengkalis, Pelalawan, dan Kota Dumai. Di darat, tim gabungan BPBD, TNI/Polri dan Manggala Agni terus berjibaku menahan laju api.

Di Pelalawan, kebakaran terjadi di Pulau Mendol. Lokasinya terpencil dan sulit dijangkau. Jalur darat terbatas, sementara bantuan udara belum datang. Sebanyak 12 personel BPBD Riau sudah lima hari berada di sana membantu pemadaman. “Tim gabungan masih melakukan pemadaman. Luasannya belum bisa dipastikan karena fokus utama menjinakkan api,” jelas Jim.

Kondisi serupa terjadi di Bengkalis. Api terdeteksi di Desa Damai, Kecamatan Air Putih, serta Desa Tanjung Leban, Kecamatan Rupat. Pendinginan terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas.

Sementara di Dumai, kebakaran di Bukit Timah dan Lubuk Gaung berhasil dipadamkan. Namun tim masih berjaga karena bara bisa muncul kembali kapan saja. “Saat ini statusnya pendinginan, tetapi petugas tetap siaga,” katanya.

Meski pesawat OMC sudah bekerja, kebutuhan bantuan belum terpenuhi sepenuhnya. Pemerintah Provinsi Riau masih menunggu helikopter water bombing dan patroli dari pemerintah pusat. Permintaan sudah disampaikan secara lisan ke BNPB, namun surat resmi masih menunggu tanda tangan gubernur.

Tanpa dukungan udara tambahan, upaya pemadaman di wilayah terpencil seperti Pulau Mendol menjadi jauh lebih berat. Petugas harus menembus semak dan lahan gambut dengan peralatan terbatas.

Karena itu, operasi modifikasi cuaca menjadi strategi penting. Hujan buatan diharapkan mempercepat pembasahan lahan sekaligus menekan potensi meluasnya karhutla. Dengan menyasar awan potensial, setiap tetes air yang turun bisa berarti banyak bagi petugas di lapangan.

Kini, perang melawan api berlangsung di dua medan, darat dan langit. Di bawah, petugas memadamkan bara. Di atas, pesawat menjemput hujan. Harapannya sederhana, hujan turun lebih cepat daripada api menyebar. Jika itu terjadi, Riau bisa selangkah lebih dekat menghindari bencana asap yang selama ini menjadi momok tahunan. *03*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.