Pemprov Riau Sambut Relokasi

Tugu Zapin Melayu Riau Terusik Rupa dan Nama

Tugu Zapin atau Tugu Titik Nol Km Kota Pekanbaru akan Direlokasi

PEKANBARU - Ada apa dibalik pembangunan tugu Zapin di Riau? Tugu diresmikan pada tahun 2011 itu sebagai simbol Titik Nol Kilometer (Km) Kota Pekanbaru. Kini tugu yang berada di Jalan Sudirman (Depan Kantor Gubernur Riau) itu, kini terusik oleh rupa dan nama.

Sejumlah tokoh masyarakat usulkan segera diganti dan direlokasi? Inilah 'kegagalan' Pemerintah Provinsi Riau yang tidak melibatkan berbagai pihak terkait pembangunan tugu tersebut. Baik dari tokoh masyarakat, tokoh budaya, maupun tokoh seniman melayu di Riau ini.

Hal ini ditegaskan Tokoh Masyarakat Riau, H. Endang Sukarelawan MS, kepada riauku.com, belum lama ini. Apalagi, kata dia, pembangunan tugu Zapin itu menyangkut identitas budaya dan marwah Melayu Riau.

"Ini terkesan tidak tersosialisasi dengan baik. Asal jadi dan 'mandai-mandai (sok pandai). Hasilnya, berbagai sindiran dan ejekan selalu terucap ketika masyarakat melihatnya. Ada yang salah?" ucap Endang, tokoh senior politisi Riau.

Endang pun menilai, tugu Zapin berbentuk orang apalagi berpasangan saat menari Zapin itu juga tidak sesuai dengan Agama Islam. Dalam budaya Melayu Riau, yang identik dengan Islam, juga tidak diperkenankan membangun tugu berbentuk manusia, apalagi berpasangan saat menari.

"Pembuatan patung berbentuk manusia itu dilarang dalam budaya Melayu. Apalagi jika nama tugu itu adalah Tari Zapin itu harusnya tidak dilakukan berpasangan," ungkap dia. 

Diketahui, tugu Zapin yang berlokasi di Bundaran Jalan Jenderal Sudirman–Gajah Mada, Pekanbaru, dibangun dan diresmikan pada tahun 2011, menjelang pelaksanaan PON XVIII Riau.

Tugu itu karya seniman I Nyoman Nuarta ini dibangun pada masa Gubernur Riau Rusli Zainal, menggantikan tugu pesawat tempur yang sebelumnya berada di lokasi tersebut. 

Biaya pembangunan Tugu Zapin ini luar biasa, mencapai Rp5 miliar. Tugu itu mampu menyedot APBD Riau pada tahun 2011 lalu. Namun, akhirnya berubah sedikit saat penandatanganan kontrak kerja menjadi Rp4,497 miliar. Wah, hanya secuil yang dipotong untuk diserahkan ke kas negara, Rp3 juta.

Hal ini juga diamini H. Shaeran, tokoh masyarakat Riau. Namun, dia menjelaskan bahwa Pematung kelas dunia, I Nyoman Nuarta, mungkin tak bisa disalahkan. Karena karya besar seniman asal Bali ini, sudah menjewantahkan pemikiran dan waktunya pada sebuah karya yang telah dikonsep dan diinginkan oleh pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.

"Setidaknya, sketsa patung sudah dirancang oleh pemahat dan diperlihatkan lalu disetujui oleh pemerintah sendiri," sebut dia.

Terusik Rupa dan Nama

Tugu titik nol Pekanbaru yang berdiri tegak di depan Kantor Gubernur Riau, tepatnya berada di persimpangan Jalan Sudirman dan Gajah Mada, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Tugu Zapin itu sebagai pengganti Tugu Pesawat Tempur, yang berdiri sejak tahun 80-an.

Secara desain, terlihat para penari Zapin wanita dan lelaki bermain di atas ombak dengan tangan lelaki barada di atas bahu. Sementara penari perempuan posisi lengan terbuka. Artinya, ketiak perempuan terllu tinggi.

"Hal ini sudah menyalahi bentuk rupa dan nama. Apalagi tidak sesuai dengan gerak Tari  Zapin Melayu yang diajarkan oleh orangtua-tua dahulu," kata H. Shaeran. 

Dia juga menjelaskan, bahwa Tari Zapin itu tidak diperbolehkan menari bersama atau bergabung antara laki-laki dan perempuan. Tarian ini harus terpisah keduanya. Selain itu, bentuk dan gerak Tari Zapin khusus lelaki, bahwa lengan kanan tidak ke atas, tetapi memegang perut atau dada seperti salat. Sementara lengan kiri lurus ke bawah.

Hal ini juga terjadi pada patung perempuan, bahwa lengan perempuan tidak boleh mengangkat terlalu tinggi. Ada batas ketinggian yaitu tidak boleh terlihat ketiak lengan. "Jika Tugu itu bernama Tari Zapin, ini sudah salah, baik rupa maupun nama," kata dia. 

Namun, ada yang menilai nama tugu itu sesuai keinginan pemerintah adalah tugu titik nol Kilometer Kota Pekanbaru. Sementara disebut Tugu Zapin adalah versi masyarakat Riau. 

Jika dilihat dari bentuk gerak, maka terlihat seperti orang menari. Hal ini menuai polemik yang tidak berkesudahan. Bahkan ada pula menilai tugu ini dengan menyebut Tugu Bahenol, karena terlihat (maaf) buntut (pinggul ) wanita terlalu menonjol.

"Tugu itu sempat menjadi cibiran dengan sebutan tugu 'Bahenol' Pekanbaru. Nah, nama-nama itu membuat tugu ini menjadi ejekan masyarakat," cetus H Shaeran.

H. Shaeran menilai, jika pemerintah menyebut tugu itu dengan nama tugu titik nol Pekanbaru, maka keberadaan titik tugu juga dipermasalahkan. Diketahui, bahwa tugu titik nol Km Pekanbaru sudah ada, yaitu terletak di lokasi Gudang PT Pelindo I Pekanbaru di dekat Pasar Bawah (belakang Pasar Wisata) Jalan Ahmad Yani. 

"Tak heran bila ada pula masyarakat menyebut tugu ini Tugu Titik Nol Pekanbaru kedua," kata dia.

Mungkin merasa 'tertekan' oleh desakan masyarakat, maka pemerintah pun dengan cepat menyebut tugu itu tugu titik nol kilometer Pekanbaru. Namun tugu Riau ini jelas membikin resah masyarakat.

Tugu Zapin Bakal Direlokasi

Pemprov Riau tengah mengkaji opsi pemindahan atau penggantian Tugu Zapin yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, pusat Kota Pekanbaru itu.

Kajian ini mencuat seiring meningkatnya masukan masyarakat terkait keberadaan patung manusia pada tugu tersebut, yang dinilai kurang sejalan dengan nilai budaya dan keagamaan masyarakat Melayu Riau, serta kondisi tugu yang kini rusak akibat aksi pencurian.

Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto mengungkapkan, aspirasi yang diterima Pemprov Riau datang dari berbagai kalangan, termasuk tokoh adat dan tokoh agama. Salah satu poin utama yang disorot adalah bentuk patung manusia pada tugu yang dianggap tidak tepat.

“Tugu Zapin ini banyak masukan dari tokoh masyarakat, dari agama Islam, kalau patung orang kurang pas. Kenapa tidak dipindahkan atau diganti dengan gambar yang lain,” ujar SF Hariyanto.

Selain persoalan nilai dan simbol, kondisi fisik Tugu Zapin juga menjadi perhatian serius. Sejumlah bagian tugu, khususnya pada bagian bawah patung penari zapin laki-laki dan perempuan, dilaporkan hilang dan diduga kuat akibat pencurian material.

“Saya sedih melihat kondisinya sekarang. Letaknya di depan Kantor Gubernur, Kejaksaan Tinggi, dan Rumah Sakit Bhayangkara, tapi masih ada yang berani menggerogoti. Ini sangat miris,” katanya.

SF Hariyanto menegaskan, lokasi Tugu Zapin yang berada di kawasan strategis dan kerap disebut sebagai titik nol Kota Pekanbaru semestinya menjadi etalase wajah ibukota provinsi. Namun, kerusakan dan vandalisme justru menciptakan citra sebaliknya.

Atas pertimbangan tersebut, Pemprov Riau kini mengkaji secara menyeluruh apakah tugu akan direlokasi, direvitalisasi, atau diganti dengan simbol lain yang dinilai lebih representatif terhadap jati diri Melayu Riau. (dmy)


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.