Panti Pijat Plus-plus Hotel Pekanbaru Dicari di Medsos
PEKANBARU - Keberadaan panti pijat plus-plus di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, tetap saja terjadi. Meski beraktivitas senyap, namun konsep plus-plus ini dikemas dengan fasilitas kebugaran. Ada juga dikelola kerja sama antara pihak hotel dan dengan pihak ketiga jasa pekerja.
Uniknya, tren mencari panti pijat plus-plus di Pekanbaru banyak dicari di Mbah Google. Mengapa panti pijat ini banyak dicari? Apakah sekedar memijat tubuh karena kelelahan, atau lainnya seperti plus-plus artinya lebih dari sekedar memijat.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Nah, alasan itulah banyak manajemen Hotel-hotel di Pekanbaru, memberikan fasilitas panti pijat tersebut. Namun, bila mencari lebih dari itu, agak sulit. Hanya saja hal itu bisa dinegosiasikan kepada orang tertentu, meski hal ini (tidak) diketahui pihak menajemen hotel.
Meskipun ada juga dipoles dengan nama mandi sauna atau pijat dengan nuansa aromo terapi alam. Inilah dilema dari pihak manajemen hotel.
Inilah yang dialami Dayun, penjaga keamanan di salah satu perusahaan di luar Kota Pekanbaru. Saat di luar dinas, dirinya sempat mengecek keberadaan panti pijat plus-plus tersebut.
Dirinya mengakui, pelayanan lebih dari tempat usaha panti pijat tersebut banyak tersedia bahkan ada pihak hotel atau penginapan menawarkan melalui pihak keamanan. "Ini saya alami sendiri. Saya mencari di mbah google dan langsung mencari lokasi penginapan tersebut," aku dia.
Dijelaskan Dayun, adanya layanan panti pijat hotel ini, juga diberikan sejumlah hotel dan penginapan yang ada di setiap kabupaten di Provinsi Riau. Namun, legalitas atau izin dari pihak manajemen hotel atau penginapan belum tentu ada.
"Tapi apakah itu legal? Banyak yang tak resmi dan sedikit pula yang melegalkan. Hanya saja kemasan yang diusung pihak manajemen hotel di Pekanbaru, ternyata bermacam-macam," terang lelaki yang juga punya sanak keluarga di Kota Pekanbaru.
Hal ini juga diakui dari salah satu pihak manajemen hotel di Pekanbaru. Sebut saja, layanan panti pijat hotel tersebut diberikan pihak manajemen hotel, dengan mengemas konsep kebugaran seperti SPA, artinya solus per aqua, yaitu melakukan perawatan tubuh secara tradisional dengan menggunakan media air.
"Layanan service panti pijat untuk konsumen tamu, Kami berikan dengan fasilitas yang ada di hotel. Namun, kalau plus-plus Kami dari pihak manajemen tidak menyediakan hal itu," jelas M. Andi, salah seorang manajemen Hotel di Pekanbaru kepada riauku.com, belum lama ini.
Andi juga menjelaskan, fasilitas panti pijat dikemas dengan luluran dengan membersihkan tubuh dengan beraneka ragam buah, menu makanan atau bahan alat tradisional.
"Cara ini dinilai ampuh untuk menutup kejelekan terhadap kredibilitas hotel bersangkutan," aku dia.
Dikemas Fasiliats Kebugaran
Konsep fasilitas panti pijat ternyata dikemas dengan fasilitas kebugaran. Tempat panti pijat itu diberikan dengan konsep kebugaran senam atau fitnes. Maka dengan merek SPA, fitnes, senam dan luluran ini banyak pula pihak hotel di Pekanbaru memisahkan bisnis ini dengan manajemen Hotel.
Artinya, pihak manajemen hotel mengklaim, bahwa fasilitas spa, fitnes, senam aerobik dan luluran tersebut terpisah. Mereka menyerahkan kepada pihak ketika, dengan menyewa tempat di dalam gedung hotel tersebut.
Namun ada juga pihak manajemen hotel atau penginapan memberikan kerja sama dengan layanan panti pijat sebagai tempat atau fasilitas kamar saja. Sementara pekerja jasa yang rata-rata wanita muda itu didatangkan dari luar hotel. Nah, legalkan tempat panti pijat hotel di Pekanbaru tersebut?
"Jika fasilitas kebugaran saja, tentu legal dan resmi sesuai konsep perhotelan. Namun jika ada layanan lebih yang tidak sesuai dengan konsep awal manajemen, tentu hal itu melanggar aturan," jelas Windi, salah seorang pekerja hotel di Pekanbaru.
Windi menjelaskan, pihak hotel memberikan layanan ke konsumen sebagai bentuk tanggung jawab manajemen. Namun, jika ada konsumen yang meminta layanan lebih atas layanan plus-plus tersebut, pihaknya tidak bertanggung jawab.
"Ya, kami melegalkan bisnis kebugaran ini saja. Namun jika ada konsumen minta layanan yang menyenangkan, tentu Kami menolaknya," aku dia.
Diketahui, jika mencari tempat panti pijat hotel di Pekanbaru, lebih dari yang diingini alias panti pijat plus-plus, biasa disebutkan mencari panti pijat wanita cantik, dengan daerah asal dari pulau Jawa, atau panti pijat Tionghoa, Bali, atau bahkan ingin merasakan tangan-tangan lembut gadis Melayu Riau, maka hal ini akan dirahasiakan.
"Bila ada aktivitas panti pijat melebihi yang diingini seperti panti pijat plus-plus, ya kami ngga tahu. Itu urusan konsumen dan pemijat sendiri. Kami tidak bertanggung jawab," tegas, seorang pengelola Hotel ternama di Riau, yang tidak mau disebutkan namanya.
Meski Anda mengaku sebagai atlit nasional, yang ingin di pijat plus-plus oleh wanita cantik di Pekanbaru, maka alamat ide tersebut tidak bakal diterima.
Tapi, jika Anda memaksakan diri, ini bisa dibisikkan di telinga kepada oknum pihak hotel, yang acap nongkrong dan berdiri tegak di salah satu pintu masuk. "Sssst... bisa dicarikan teman saya untuk diurut wanita cantik, gak?" Begitulah kira-kira awal bisikkannya.
Bila bisikan ini ditanggapi, selanjutnya terserah Anda. "Di kamar ..... (sebutkan nomor kamar Anda, tapi bukan kamar teman Anda), ini ya?"
Namun, adanya aksi diam-diam maraknya aktivitas panti pijat di Pekanbaru ini disesalkan pihak anggota DPRD Pekanbaru, H. Fatullah MS kepada riauku.com.
"Ini harus ada edukasi dari pihak pemerintah, lembaga adat Melayu Riau dan tokoh agama kepada pihak manajemen hotel atau penginapan. Kami dari pihak DPRD hanya memberikan hukuman dengan mencabut izin hotel atau penginapan tersebut jika terindikasi melanggar hukum," kata dia.
Diketahui Data terakhir, pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pekanbaru pernah merazia penyakit masyarakat (Pekat) ini pada Kamis 20 Maret 2025 dini hari.
Razia di beberapa tempat, di antaranya kawasan Stadion Utama Riau, penginapan wisma dan hotel melati itu terjaring 19 pria dan wanita di tempat-tempat tersebut. Mereka yang diamankan dipastikan tidak memiliki hubungan suami istri.
Disusul pada Sabtu 25 Oktober 2025, Satpol PP Kota Pekanbaru, menutup aktivitas panti pijat di salah satu rumah, di Jalan Kertama, Kecamatan Marpoyan Damai. Penutupan panti pijat itu, menyusul adanya dugaan prostitusi di lokasi tersebut. (dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar