Dunia di Ujung Tanduk! AS Rancang Serangan Berminggu-minggu ke Iran,

JAKARTA, RIAUKU.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas. Dua pejabat Amerika Serikat mengungkapkan bahwa militer negaranya tengah menyiapkan skenario operasi tempur berkelanjutan terhadap Iran jika perintah serangan benar-benar diberikan oleh Donald Trump. Rencana tersebut disebut bukan sekadar operasi singkat, melainkan bisa berlangsung berminggu-minggu dan berpotensi memicu konflik besar di kawasan Timur Tengah.

Informasi itu mencuat di tengah upaya diplomasi yang masih berjalan. Pemerintah AS sebenarnya masih membuka pintu negosiasi dengan Teheran. Namun di saat yang sama, persiapan militer terus diperkuat, sebuah sinyal bahwa Washington menyiapkan dua jalur sekaligus; damai atau perang.

Menurut laporan, utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu delegasi Iran di Jenewa pada Selasa mendatang. Negosiasi tersebut akan dimediasi Oman, negara yang selama ini sering berperan sebagai penghubung dialog kedua pihak.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui peluang tercapainya kesepakatan sangat sulit. Ia menegaskan pemerintahan Trump memang lebih memilih perjanjian diplomatik, tetapi perbedaan kepentingan kedua negara masih terlalu dalam.

Sementara meja perundingan dipersiapkan, Pentagon justru menggerakkan kekuatan militernya. Amerika Serikat dilaporkan menambah kapal induk di kawasan Timur Tengah, mengirim ribuan personel tambahan, pesawat tempur, kapal perusak rudal berpemandu, serta berbagai perangkat tempur lain. Seluruh kekuatan ini mampu melakukan serangan jarak jauh sekaligus pertahanan terhadap serangan balasan.

Pengerahan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik bersenjata bisa pecah sewaktu-waktu. Banyak analis menilai langkah itu sebagai tekanan strategis—mendorong Iran berkompromi di meja perundingan dengan bayang-bayang kekuatan militer di belakangnya.

Dalam pidatonya usai acara militer di Fort Bragg, Carolina Utara, Trump bahkan secara terbuka menyinggung kemungkinan pergantian pemerintahan di Iran. Ia menyatakan perubahan rezim mungkin menjadi “hal terbaik yang bisa terjadi,” meskipun tidak menyebut siapa yang diinginkan menggantikan kepemimpinan di Teheran.

Pernyataan tersebut menambah panas situasi. Selama puluhan tahun hubungan kedua negara memang dipenuhi ketegangan. Trump sendiri berulang kali mengkritik kepemimpinan Iran, menyebut negosiasi selama puluhan tahun hanya menghasilkan kebuntuan.

Meski bernada keras, Trump tetap menegaskan ia tidak menyukai opsi pengerahan pasukan darat. Ia sebelumnya mengatakan perang darat adalah pilihan terakhir. Karena itu, komposisi kekuatan militer yang dikirim saat ini lebih menunjukkan skenario serangan udara dan laut—operasi cepat, presisi, namun berulang.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyatakan presiden memiliki semua opsi yang tersedia terkait Iran. Menurutnya, Trump mendengarkan berbagai masukan sebelum menentukan langkah terbaik demi keamanan nasional Amerika Serikat.

Pentagon sendiri memilih bungkam dan menolak memberi komentar rinci. Namun diamnya militer sering dianggap sebagai tanda bahwa perencanaan memang sedang berlangsung.

Kini dunia menunggu hasil pertemuan di Jenewa. Jika diplomasi berhasil, krisis mungkin mereda. Tetapi bila gagal, pengerahan kekuatan besar-besaran itu bisa berubah menjadi operasi militer panjang yang mengguncang stabilitas global—mulai dari harga minyak, ekonomi dunia, hingga keamanan kawasan.

Di tengah tarik ulur tersebut, satu hal jelas: jam menuju keputusan besar sedang berdetak. Dunia hanya punya sedikit waktu sebelum situasi berbalik dari negosiasi menjadi konfrontasi terbuka.*04

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.