Riau Masih Membara! Dalam 24 Jam Hotspot Meledak 200 Titik

Infografis Sebaran Titik Panas di Sumatera pada Minggu (15/02/2026). (ist/AI)

PEKANBARU, RIAUKU.COM — Ancaman kebakaran hutan dan lahan kembali menghantui langit Bumi Lancang Kuning. Setelah sempat mereda sehari sebelumnya, jumlah titik panas di Riau tiba-tiba melonjak drastis dan membuat aparat siaga penuh sejak pagi hari.

Berdasarkan pembaruan data pukul 07.00 WIB, Minggu (15/02/2026), jumlah hotspot tercatat mencapai 229 titik. Angka ini mengejutkan karena sehari sebelumnya, Sabtu pagi, hanya terdeteksi 29 titik. Artinya, dalam waktu kurang dari 24 jam terjadi lonjakan sebanyak 200 titik panas.

Lonjakan ini langsung menempatkan Riau sebagai wilayah dengan hotspot terbanyak di Pulau Sumatera. Dari total 285 titik di seluruh Sumatera, hampir seluruhnya terkonsentrasi di provinsi ini. Kondisi tersebut kembali menghidupkan kekhawatiran lama: musim kebakaran bisa datang lebih cepat dari perkiraan.

Forecaster on duty BMKG Pekanbaru, Sanya Gautami, menjelaskan bahwa sebaran titik panas sangat tidak merata. Satu daerah bahkan mendominasi hampir seluruh peta panas. Kabupaten Bengkalis mencatat 206 titik — jumlah yang nyaris mencakup keseluruhan hotspot di provinsi.

Wilayah lain menyusul dengan angka jauh lebih kecil. Kabupaten Pelalawan terdeteksi 8 titik, Kabupaten Siak 7 titik, Kabupaten Kepulauan Meranti 4 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 2 titik, serta masing-masing 1 titik di Kota Dumai dan Indragiri Hulu.

Kondisi ini terjadi hanya selang sehari setelah hujan sempat mengguyur beberapa wilayah Riau. Saat itu, jumlah hotspot turun tajam dan memberi harapan situasi mulai terkendali. Namun cuaca yang kembali kering dan berawan membuat permukaan lahan gambut cepat mengering. Begitu suhu meningkat, bara kecil saja dapat berubah menjadi sumber api baru.

Para petugas pemantau menyebut lonjakan mendadak seperti ini biasanya menjadi fase paling rawan. Api kecil sering belum terlihat dari permukaan, tetapi sudah terbaca satelit sebagai anomali panas. Jika terlambat ditangani, titik-titik tersebut berpotensi berkembang menjadi kebakaran besar dan memicu kabut asap.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Selain melanggar hukum, kebiasaan tersebut menjadi pemicu utama karhutla setiap tahun. Pemerintah daerah dan aparat juga diminta meningkatkan patroli darat terutama di wilayah pesisir dan gambut yang mudah terbakar.

Sementara itu, peta hotspot Sumatera menunjukkan perbandingan mencolok. Aceh hanya mencatat 2 titik, Jambi 3 titik, Sumatera Utara 1 titik, Bengkulu 2 titik, Lampung 1 titik, Bangka Belitung 16 titik, dan Kepulauan Riau 31 titik. Dengan 229 titik, Riau berada jauh di atas provinsi lain.

Situasi ini membuat kewaspadaan kembali dinaikkan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan lonjakan awal sering menjadi tanda awal musim kebakaran. Jika hujan tidak turun dalam beberapa hari ke depan, jumlah hotspot dikhawatirkan terus bertambah.

Masyarakat diimbau segera melapor apabila melihat asap atau pembakaran lahan sekecil apa pun. Upaya cepat di tahap awal menjadi kunci mencegah bencana kabut asap yang lebih luas. Kini semua pihak berharap hujan segera turun, sebelum bara kecil berubah menjadi bencana besar. *04

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.