Al-Ulum Islamic School Padukan Metode Outdoor Learning Pendidikan Riau
PEKANBARU - Outdoor class atau outdoor learning dikenal konsep pendidikan melalui proses belajar-mengajar dilakukan di luar ruangan kelas konvensional. Strategi ini mampu menyatukan teori akademis dengan pengalaman nyata yang konkret, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi anak didik. Al-Ulum Islamic School sudah menerapkan metode ini.
Diketahui, aktivitas belajar mengajar melalui pendekatan metode Outdoor Learning ini, yaitu dengan lingkup kecil memanfaatkan area lingkungan sekolah seperti taman alam, kebun sebagai sumber belajar utama.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Humas Al-Ulum Islamic School, Wulan Syafitri, S.Sos., MPd kepada riauku.com mengatakan pendidikan Al-Ulum Islamic School sudah lama menerapkan metode Outdoor Learning ini. Menurutnya, ada keunggulan yang tidak didapatkan dalam proses belajar mengajar di ruang tertutup.
"Selain itu, adanya peningkatan motivasi bagi siswa terhadap kondisi suasana yang segar dan bebas membantu mengatasi kejenuhan, sehingga siswa lebih antusias dan berprestasi," jelas Wulan.
Apalagi dalam perkembangan fisik dan kesehatan, tambah Wulan, manfaat dari metode Outdoor Learning ini, siswa lebih aktif bergerak, yang mendukung koordinasi tubuh dan kesehatan mental anak didik.
Begitu pula dengan akan tumbuhnya keterampilan sosial anak didik, sehingga anak didik mampu mendorong kolaborasi, kerja sama tim, dan kemampuan berkomunikasi dan interaksi antarteman saat menyelesaikan tugas lapangan.

"Anak didik juga diuntungkan atas pemahaman materi yang sulit akan mudah dipahami secara teoritis. Hal ini seperti ekosistem atau sejarah akan menjadi lebih mudah dicerna melalui interaksi langsung," terang Wulan.
Di pendidikan Al-Ulum Islamic School ini, kata Wulan juga memiliki fasilitas dan infrastruktur yang mendukung metode Outdoor Learning ini. "Al-Ulum Islamic School memiliki fasilitas yang lengkap, mendukung metode Outdoor Learning seperti gedung yang nyaman dan besar, halaman yang luas, taman, lingkungan asri maupun ruang laboratorium," kata dia.
Al-Ulum Islamic School memiliki visi menjadikan sekolah unggul dalam prestasi, terdepan dalam budi pekerti, berwawasan global berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadits, beralamat Jalan Tuanku Tambusai No.696, Delima, Kec. Tampan, Kota Pekanbaru, Riau.
Dengan metode ini, banyak prestasi yang diraih siswa. Ini bisa menjadi pilihan terbaik bagi orangtua untuk menitipkan anak-anak di Al-Ulum Islamic School.
Konsep Belajar Outdoor Learning
Menurut Prof. Dr. Usman M. Tang, akademisi Universitas Riau kepada Riauku.com, bahwa implementasi metode Outdoor Learning ini, bahwa guru tidak sekadar memindahkan papan tulis ke lapangan, melainkan menerapkan model sistematis, melalui model pembelajaran kontekstual menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata.
"Seperti tahapan pelaksanaan pelajaran dengan menetapkan tujuan belajar, menentukan lokasi (misal: kebun sekolah atau museum). Pelaksanaannya, siswa akan tumbuh berkembang melalui kreativitas aktivitas eksplorasi, diskusi kelompok, dan pengumpulan data di lapangan," jelas dia.
Setelah itu, tambah Prof Usman, penilaian melalui evaluasi atau refleksi dengan melakukan penarikan kesimpulan secara konseptual dan penilaian melalui kuis atau laporan. "Model inkuiri dan eksperimental ini juga diharapkan siswa diajak melakukan observasi, penyelidikan, dan percobaan langsung terhadap objek alam atau sosial," kata Prof Usman.
Prof Usman menjelaskan seperti dicontohkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) konsep belajar outdoor class untuk kelas IV (empat) Sekolah Dasar (SD), Mata Pelajaran (IPA) dan Bahasa Indonesia (Tematik), dengan konsep pendidikan dirancang khusus melalui pendekatan yang lebih menyenangkan, eksploratif, dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

"Sebagai contoh tema: Indahnya Kebersamaan melalui Peduli Terhadap Makhluk Hidup dengan topik: Bagian Tubuh Tumbuhan dan Fungsinya dan Lokasi Halaman atau Kebun Sekolah," terang dia.
Tujuan Pembelajaran yang dicapai untuk IPA ini kata Prof Usman, adalah siswa dapat mengidentifikasi bagian-bagian tumbuhan seperti akar, batang, daun, bunga secara langsung di alam. Sementara Bahasa Indonesia, siswa dapat menuliskan laporan hasil pengamatan sederhana dengan kosakata yang tepat.
"Sehingga outcome yang dicapai adalah melalui karakter dengan memupuk rasa syukur kepada Tuhan atas ciptaan alam dan kerjasama tim," ujar dia.
Masih banyak RPP lainnya, lanjut Prof Usman, seperti investigasi dan observasi mencari objek tumbuhan, sehingga siswa mencari satu jenis tumbuhan yang berbeda untuk setiap kelompok.
"Siswa pun dituntut untuk menyentuh dan mengamati objek dengan meraba tekstur batang (kasar/halus), melihat bentuk tulang daun (menyirip/menjari), dan mencari akar jika ada tumbuhan kecil yang boleh dicabut (seperti rumput liar)," kata dia.
Nah, disinilah diskusi kelompok terjadi, lanjut Prof Usman. Guru pun berkeliling memberikan pertanyaan melalui presentasi siswa duduk melingkar di bawah pohon besar. Setiap kelompok pun akan menunjukkan tanaman yang mereka amati dan menyebutkan fungsinya.
Inilah konsep pendidikan sederhana Outdoor Learning dalam proses belajar mengajar yang memacu motivasi dan semangat keingintahuan anak didik sangat tinggi.
Pendapat Ahli Outdoor Learning
Diketahui, penelitian pendidikan secara konsisten menunjukkan dampak positif dari metode Outdoor Learning ini. Hasil belajar atau output yang dicapai akan lebih tinggi, karena studi menunjukkan bahwa kelas yang menerapkan outdoor learning memiliki rata-rata nilai hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan kelas dengan model konvensional.
Sementara itu, efektivitas pada mata pelajaran ternyata terbukti sangat efektif pada pelajaran sains seperti biologi/IPA dan sosial/IPS, karena obyek studi tersedia secara melimpah di lingkungan sekolah.
Secara teori konstruktivisme juga membuktikan, bahwa hasil kajian akan mendukung teori bahwa siswa membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman aktif, bukan sekadar menerima informasi pasif.
Seorang ahli pendidikan Aris Shoimin dalam salah satu bukunya paling populer dan menjadi rujukan pendidikan nasional adalah "68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013" diterbitkan oleh Ar-Ruzz, Yogyakarta.
Aris memandang metode outdoor study sebagai cara untuk meningkatkan kreativitas dan kemandirian siswa melalui pengamatan langsung.
Hal ini juga diamini seorang peneliti independen, penulis, dan pakar global terkemuka dalam bidang permainan luar ruangan (outdoor play) dan mobilitas anak-anak dari luar London, Inggris , yakni Tim Gill.
Ia tunak akan pentingnya memberikan anak-anak kebebasan untuk bermain di alam terbuka. Gill juga dikenal karena pandangannya tentang "manajemen risiko seimbang" dalam bermain, di mana anak-anak perlu menghadapi risiko kecil untuk belajar mandiri.
Buku terkenal ditulis Gill adalah "No Fear: Growing Up in a Risk Averse Society" (2007). Buku ini sangat terkenal dan disebut sebagai "buku panduan bagi gerakan bermain yang lebih bebas dan berisiko" oleh New York Times. Isinya mengkritik sikap orang dewasa yang terlalu protektif sehingga membatasi eksplorasi fisik dan sosial anak.
Peneliti pendidikan luar ruang ini juga menyatakan bahwa outdoor learning mampu meningkatkan kepercayaan diri, keterampilan fisik, motivasi, dan kemampuan komunikasi siswa secara signifikan. (ridhwan/dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar