207 Titik Panas, Bengkalis Jadi Episentrum Karhutla di Sumatera
PEKANBARU — Langit pagi di sejumlah wilayah pesisir Riau mulai terasa lebih panas dari biasanya. Bukan hanya karena matahari, tetapi juga karena sinyal bahaya dari satelit pemantau kebakaran yang menunjukkan lonjakan drastis titik panas di provinsi ini.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat, hingga Jumat (13/2/2026), Pulau Sumatera memiliki 329 hotspot. Mengejutkannya, 280 titik di antaranya berada di Riau — lebih dari 85 persen total titik panas di Sumatera.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
Forecaster on duty BMKG Pekanbaru, Ranti Kurniati, mengatakan dominasi ini menjadikan Riau wilayah paling rawan saat ini. “Sebaran titik panas di Sumatera didominasi Provinsi Riau dengan jumlah mencapai 280 titik,” ujarnya.
Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan lonjakan paling tinggi. Dari seluruh hotspot di Riau, 207 titik berada di daerah ini saja. Angka tersebut jauh melampaui wilayah lain dan menjadi perhatian utama petugas pengendalian kebakaran.
Selain Bengkalis, titik panas juga terdeteksi di Pelalawan 16 titik, Siak 11 titik, Kepulauan Meranti 10 titik, Indragiri Hilir 10 titik, Dumai 9 titik, Rokan Hilir 7 titik, Kampar 5 titik, Rokan Hulu 2 titik, Indragiri Hulu 2 titik, dan Kuantan Singingi 1 titik.
Dibanding Riau, provinsi lain di Sumatera mencatat angka jauh lebih kecil. Di Provinsi Aceh terpantau 7 titik, Sumatera Barat 2 titik, Sumatera Selatan 3 titik, Sumatera Utara 3 titik, Kepulauan Riau 10 titik, Bangka Belitung 12 titik, dan Jambi 12 titik.
BMKG menilai lonjakan ini sebagai peringatan dini. Terutama di wilayah gambut yang mudah terbakar ketika mulai mengering. Jika tidak dikendalikan cepat, titik panas dapat berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan yang berdampak pada kabut asap, kesehatan masyarakat, serta aktivitas ekonomi.
Pemantauan hotspot dilakukan terus-menerus untuk mencegah karhutla sebelum api benar-benar muncul ke permukaan. Dengan dominasi hotspot nasional berada di Riau, pemerintah daerah dan seluruh pihak kini diminta meningkatkan kewaspadaan — sebelum percikan kecil berubah menjadi bencana besar. (kh)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar