Ekspor CPO RI ke Timur Tengah Terganggu Perang Dingin AS-Israel vs Iran
JAKARTA, RIAUKU.COM – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memberikan peringatan serius terkait prospek ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) nasional. Perang Timur Tengah bisa berdampak buruk terhadap harga.
Eskalasi militer melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dikhawatirkan akan memicu penurunan permintaan global akibat melambungnya biaya pengiriman dan asuransi.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengungkapkan, situasi di Timur Tengah memaksa jalur pelayaran ekspor harus memutar, sehingga berdampak pada kenaikan biaya logistik dan asuransi hingga rata-rata 50 persen.
“Tetapi terus terang, kalau ini (eskalasi antara AS-Iran terhadap Israel) berkepanjangan pasti akan berpengaruh. Berpengaruh dalam arti berpengaruh permintaan dari ekspor,” ujar dia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (12/3/2026) malam.
Eddy mencemaskan jika harga CPO di tingkat konsumen menjadi terlalu mahal akibat beban logistik, para negara importir akan mulai mengerem pembelian mereka dari Indonesia.
“Atau mereka negara-negara importir ada kemungkinan akan mengurangi pembelian apabila harganya sudah terlalu tinggi. Utamanya harga di logistiknya. Ini yang kita tidak berharap untuk terjadi. Kita berharap perang cepat selesai, sehingga ekspor kita masih berjalan dengan lancar,” kata dia.
Tergantung Jalur Selat Hormuz
Wilayah Timur Tengah menjadi area yang paling terdampak langsung karena ketergantungan pada jalur Selat Hormuz. Merujuk data 2025, ekspor ke kawasan ini mencapai 1,83 juta ton dengan nilai mencapai USD1,9 miliar.
Negara-negara seperti Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman kini berada dalam zona risiko gangguan distribusi.
“Gangguan kita memang yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East. Kita ada di situ yang betul-betul harus melalui Selat Hormuz. Itu ekspor kita ke Middle East itu ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu,” katanya.
Meskipun distribusi masih berjalan, efisiensi operasional sangat terganggu. Sebagian kapal terpaksa memutar melalui Cape Town, Afrika, untuk menuju Eropa guna menghindari zona konflik, sementara sebagian kecil lainnya tetap berisiko melintasi Terusan Suez dengan premi keamanan yang sangat mahal.
Pengaruh Ekonomi RI
Ekspor sawit Indonesia mulai menghadapi sejumlah hambatan di pasar global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan konflik yang melibatkan beberapa negara menyebabkan jalur pelayaran internasional menjadi tidak stabil. Kondisi ini berpotensi mengganggu distribusi minyak sawit Indonesia, terutama ke kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pasar penting.
Sebagian besar pengiriman sawit menuju kawasan tersebut harus melewati Selat Hormuz, jalur laut strategis yang kini berada dalam risiko akibat konflik. Akibatnya, sekitar 1,83 juta ton ekspor sawit Indonesia ke kawasan Timur Tengah berpotensi terganggu karena masalah keamanan dan logistik pengiriman.
Selain faktor geopolitik, ekspor sawit juga dipengaruhi oleh kebijakan domestik Indonesia seperti peningkatan pungutan ekspor serta peningkatan penggunaan CPO untuk program biodiesel dalam negeri. Kebijakan ini dapat mengurangi volume sawit yang tersedia untuk pasar ekspor. *si/04
Dampak Ekspor Sawit
- Pendapatan devisa negara berkurang
- Harga sawit dunia menjadi tidak stabil
- Petani sawit dan industri hilir ikut terdampak
- Pemerintah harus mencari pasar ekspor alternatif
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar