Senjata Makan Tuan, Harga Bensin AS Melonjak Tajam Akibat Perangi Iran

Banyak analis menilai bahwa konflik Iran bukan hanya perang militer, tetapi juga perang energi dan ekonomi. AS kena senjata makan tuan. (ils)

JAKARTA - Harga bahan bakar melonjak lebih dari 20 persen pada pekan ini, seiring kenaikan harga minyak dunia di atas US$90 per barel sekaligus tertinggi dalam beberapa tahun ke belakang. Kini, harga bensin dan diesel eceran di Amerika Serikat (AS) mengalami lonjakan tajam.

Perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga langsung mengguncang ekonomi global, terutama sektor energi. Salah satu dampak yang paling terasa adalah melonjaknya harga bensin di Amerika Serikat.

Data terbaru menunjukkan, bahwa harga bensin rata-rata di AS kini mencapai sekitar US$3,58 per galon, naik sekitar 20% dibandingkan sebelumnya setelah konflik militer di Iran memicu kenaikan harga minyak dunia.

Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak 2023 ketika seluruh negara bagian di Amerika kembali mencatat harga bensin di atas US$3 per galon.

Presiden AS Tidak Ambil Pusing

Presiden AS Donald Trump mengaku tidak ambil pusing dengan kenaikan harga bensin ini. "Jika naik, ya naik saja," katanya kepada Reuters, dikutip cnn, Kamis (12/3/2026).

Trump pernah berjanji untuk menurunkan harga energi dan menggenjot pengeboran minyak dan gas AS selama masa jabatan keduanya.

Namun, sejauh ini masa kepemimpinannya ditandai dengan volatilitas dan ketidakpastian di tengah pergeseran kebijakan seperti tarif dan gejolak geopolitik.

AS sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar di dunia. Negeri Paman Sam juga merupakan eksportir utama. Namun, mereka tetap mengimpor jutaan barel per hari karena merupakan konsumen minyak terbesar di dunia.

Harga Bensin dan Diesel Naik

Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan per Jumat (6/3) kemarin, harga rata-rata nasional untuk bensin reguler di AS berada di angka US$3,32 per galon. Angka ini naik 11 persen dari sepekan lalu dan merupakan yang tertinggi sejak September 2024.

Harga diesel berada di angka US$4,33, naik 15 persen dari seminggu lalu. Angka ini melonjak ke level tertinggi sejak November 2023.

Pengendara AS di sebagian wilayah Midwest dan Selatan, termasuk negara-negara bagian yang mendukung Trump saat Pemilu AS 2024, telah melihat beberapa kenaikan biaya bahan bakar yang paling tajam sejak konflik di Iran dimulai.

Situs pelacakan bahan bakar GasBuddy mencatat, di Georgia yang merupakan negara bagian pemilih Trump dalam pemilu 2024, mencatatkan rata-rata harga bensin eceran naik 40,1 sen per galon selama sepekan terakhir.

Perang Iran membuat harga minyak mentah dunia melonjak hingga di atas US$100 per barel, karena pasar khawatir pasokan energi terganggu.

Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz, jalur laut yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, membuat banyak kapal tanker menghentikan perjalanan karena alasan keamanan.

Ketika jalur energi terganggu, suplai minyak global menjadi terbatas, sehingga harga minyak dan bahan bakar otomatis naik di berbagai negara.

Dampak Ekonomi bagi Amerika Serikat

Lonjakan harga bensin menjadi masalah besar bagi masyarakat Amerika karena hampir semua aktivitas ekonomi bergantung pada transportasi.

Beberapa dampak yang mulai terlihat antara lain: biaya transportasi meningkat tajam, harga barang dan makanan ikut naik, inflasi berpotensi meningkat dan tekanan politik terhadap pemerintah bertambah.

Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan harga energi ini dapat memicu kenaikan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi jika konflik berlangsung lama.

Perang Energi Mahal

Banyak analis menilai bahwa konflik Iran bukan hanya perang militer, tetapi juga perang energi dan ekonomi.

Jika konflik berlanjut, Amerika Serikat dan sekutunya akan menghadapi biaya yang sangat besar, karena operasi militer membutuhkan biaya tinggi, harga energi domestik ikut naik, tekanan ekonomi terhadap masyarakat meningkat.

Dalam kondisi seperti ini, perang yang berkepanjangan dapat menjadi beban ekonomi besar bahkan bagi negara maju sekalipun.

Lonjakan harga bensin di Amerika Serikat merupakan dampak langsung dari perang Iran yang mengguncang pasar energi global. Ketegangan di Timur Tengah, gangguan jalur minyak dunia, serta kenaikan harga minyak mentah membuat biaya bahan bakar naik tajam dan berpotensi memicu tekanan ekonomi lebih luas. *04


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.