Iran Pakai 'Senjata AI' Serang AS-Israel di Timur Tengah, Peluang Menang?

Senjata AI milik Iran adalah drone tempur otomatis. Contohnya: Qods Mohajer-10 dipakai dengan jarak operasi sekitar 2.000 km. (ils)

JAKARTA, RIAUKU.COM - Iran mulai mengembangkan teknologi senjata berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan kemampuan militernya. Teknologi ini terutama digunakan pada drone, rudal, robot tempur, dan sistem pengintaian. Iran bakal memenangi pertempuran ini.

Mesin kecerdasan buatan (AI) memberikan rekomendasi tentang target dan waktu serangan, jauh lebih cepat dalam beberapa hal daripada kecepatan berpikir manusia. 

Militer Iran menyatakan bahwa mereka telah mengembangkan ribuan peralatan militer yang memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan akurasi serangan, navigasi otomatis, dan kemampuan pengenalan target di medan perang.

Iran Miliki Drone Tempur Berbasis AI

Salah satu senjata AI paling menonjol milik Iran adalah drone tempur otomatis. Contohnya: Qods Mohajer-10 dipakai dengan jarak operasi sekitar 2.000 km dan mampu terbang hingga 24 jam membawa hingga 300 kg senjata digunakan untuk serangan udara dan pengintaian.

Drone lain seperti Mohajer-6 dan Ababil-5 juga dilengkapi sistem AI yang memungkinkan drone memilih target dengan lebih presisi dan meluncurkan rudal pintar seperti Qaem dan Almas.

Drone menjadi kekuatan utama Iran karena relatif murah, bisa diproduksi massal dan sulit dihentikan jika dikirim dalam jumlah besar.

Iran juga mengembangkan rudal jelajah dan rudal presisi berbasis AI. Beberapa rudal yang diuji memiliki kemampuan seperti menyesuaikan jalur penerbangan secara otomatis dan mengenali target saat menyerang pada ketinggian berbeda.

Sebagian rudal tersebut memiliki jangkauan lebih dari 1.000 km, sehingga bisa menjangkau pangkalan militer musuh di kawasan Timur Tengah.

Iran_kembengkan_teknologi_senjata_berbasis_kecerdasan_buatan_AI_2.jpg

Iran Mempunyai Robot Tempur Berbasis AI

Iran juga mengembangkan robot militer darat seperti Aria Combat Robot. Robot ini dapat membawa senapan mesin 7,62 mm dengan melakukan pengintaian dan memberi dukungan tembakan beroperasi secara remote atau semi-otomatis di medan perang. Robot ini juga digunakan untuk mengurangi risiko korban tentara.

Strategi Iran Memakai Senjata AI

Iran tidak mencoba menyaingi teknologi Barat secara langsung. Sebaliknya, Iran menggunakan strategi perang asimetris. Strategi ini meliputi produksi drone murah dalam jumlah besar dan serangan rudal massal penggunaan robot dan sistem otomatis perang elektronik dan siber serangan melalui milisi sekutu di kawasan.

Tujuannya bukan hanya memenangkan perang cepat, tetapi membuat perang menjadi mahal dan sulit bagi lawan.

Kelemahan Teknologi AI Iran

Walaupun Iran telah membuat kemajuan, teknologi AI militernya masih memiliki beberapa keterbatasan. namun teknologi sensor dan satelit masih terbatas dan sebagian komponen elektronik masih bergantung pada luar negeri dan sistem pertahanan lawan seperti Iron Dome dan sistem anti-drone dapat mencegat banyak serangan negara seperti AS memiliki teknologi AI militer yang jauh lebih maju.

Selain itu, banyak drone Iran menggunakan komponen elektronik impor yang diperoleh melalui berbagai jalur perdagangan internasional.

Peluang Kemenangan Iran

Jika dilihat secara realistis, jika Iran melawan Israel saja, maka Iran memiliki peluang mengimbangi konflik dalam jangka waktu panjang, misalnya perang bisa berlangsung lama seperti 6 (enam) bulan  ke depan, karena jumlah drone dan rudal yang besar jaringan milisi regional kemampuan perang asimetris.

Sementara Israel tetap unggul dalam teknologi militer dan pertahanan udara intelijen. Apalagi dibantu oleh rekan sejumlah negara, AS, Prancis maupun Australia.

Jika Iran melawan Israel dan Amerika Serikat, maka peluang kemenangan Iran sangat kecil secara militer konvensional. Hal ini karena kekuatan udara Amerika sangat dominan teknologi satelit dan cyber warfare lebih maju sistem pertahanan rudal Israel sangat kuat.

Namun Iran masih bisa memperpanjang konflik dan menimbulkan kerugian besar bagi lawan, terutama melalui serangan drone massal dan gangguan jalur energi global. AS dan Israel serta sekutu tetap kewalahan menghadapi Iran, yang sudah memprediksi akan diserang oleh Israel, sejak dituduh memiliki nuklir dan senjata pembunuh massal. 

Jauh-jauh hari Iran sudah mempersiapkan perang ini harus bertahan selama 6 hingga 8 bulan ke depan. Jika Iran mampu mempertahankan waktu perang ini, maka Iran bakal menang dalam pertempuran ini.

Kekuatan Militer AS - Israel

Militer Amerika Serikat dilaporkan memanfaatkan model AI Claude milik Anthropic untuk mempercepat proses penentuan dan persetujuan target. Teknologi ini disebut mampu "memendekkan rantai pembunuhan", dari identifikasi sasaran hingga peluncuran serangan, sehingga peran pengambil keputusan manusia dikhawatirkan makin terpinggirkan.

AS dan Israel, yang sebelumnya menggunakan AI untuk mengidentifikasi target di Gaza, melancarkan hampir 900 serangan terhadap target di Iran dalam 12 jam pertama. Salah satu serangan rudal Israel dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Rekomendasi Akademisi

Para akademisi menyebut fenomena percepatan ini sebagai "kompresi keputusan" (decision compression), yakni penyusutan waktu yang dibutuhkan untuk merencanakan dan mengeksekusi serangan kompleks.

Mereka khawatir hal itu dapat membuat pejabat militer dan penasihat hukum sekadar menandatangani rencana serangan yang dihasilkan sistem otomatis tanpa pertimbangan mendalam.

Pada 2024, Anthropic mulai menerapkan modelnya di Departemen Pertahanan AS dan sejumlah lembaga keamanan nasional untuk mempercepat perencanaan perang.

Claude menjadi bagian dari sistem yang dikembangkan oleh Palantir Technologies bersama Pentagon guna "secara dramatis meningkatkan analisis intelijen dan memfasilitasi proses pengambilan keputusan pejabat".

"Mesin AI memberikan rekomendasi tentang target yang harus diserang, yang sebenarnya jauh lebih cepat dalam beberapa hal daripada kecepatan berpikir," kata Craig Jones, dosen senior geografi politik di Universitas Newcastle dan ahli rantai pembunuhan, mengutip The Guardian, Selasa (3/3).

"Jadi, Anda memiliki skala dan kecepatan, Anda melakukan serangan gaya pembunuhan sambil sekaligus melumpuhkan kemampuan rezim untuk merespons dengan semua rudal balistik udara. Hal itu mungkin membutuhkan hari atau minggu dalam perang-perang historis. [Sekarang] Anda melakukan semuanya sekaligus," lanjutnya.

Sistem AI terbaru mampu menganalisis data dalam jumlah besar secara cepat, mulai dari rekaman drone, penyadapan telekomunikasi, hingga intelijen manusia.

Sistem milik Palantir Technologies menggunakan pembelajaran mesin untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan target, merekomendasikan jenis senjata, memperhitungkan persediaan serta kinerja sebelumnya terhadap target serupa. Sistem ini juga memakai penalaran otomatis untuk mengevaluasi dasar hukum serangan.

"Ini adalah era baru dalam strategi militer dan teknologi militer," kata David Leslie, profesor etika, teknologi, dan masyarakat di Queen Mary University of London. *04


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.