Kurs Rupiah Dibuka Loyo, Intip Prediksi Pekan Depan
JAKARTA - Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (4/3/2026). Kurs rupiah melemah 58 poin atau 0,34 persen menjadi Rp16.930 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.872 per dolar AS.
Nilai mata uang rupiah diproyeksikan terus melemah dikisaran Rp 16.870 - Rp 16.910 pada perdagangan hari ini, seiring dengan meluasnya perang udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Berita Terkait
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
- Harga Emas Antam Turun Tipis ke Rp2,992 Juta per Gram
"Mata uang rupiah (diprediksi) fluktuatif, namun ditutup melemah direntang Rp 16.870 - Rp 16.910," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Akibat Perang
Ibrahim menilai faktor mempengaruhi pelemahan rupiah yakni perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas pada hari Senin (2/3/2026) dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Disisi lain, dengan memanasnya perang tersebut kapal tanker dan kapal kontainer juga menghindari jalur air tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal tersebut, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global telah melonjak.
"Kekhawatiran tentang transit di jalur air tersebut meningkat setelah media Iran melaporkan pada hari Senin bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran mengatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melewatinya. Sekitar 20% minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz," ujarnya.
"Para analis memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang sementara pasar fokus pada dampak meningkatnya konflik di Timur Tengah," ujarnya.
Selain memanasnya perang AS dan Israel terhadap Iran, kata Ibrahim pasar juga akan memperhatikan pernyataan pejabat The Fed dengan Presiden Fed New York John Williams, Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid, dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari dijadwalkan untuk berbicara. Pernyataan itu cenderung agresif dari para pejabat Fed dapat memperkuat Dolar AS.
Sementara itu, fokus pasar minggu ini adalah data pasar tenaga kerja AS minggu ini, termasuk Perubahan Ketenagakerjaan ADP dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat membentuk ekspektasi untuk jalur kebijakan moneter Fed.
"Data ekonomi terbaru menunjukkan inflasi tetap tinggi, mendorong para pedagang untuk mengurangi taruhan pada pelonggaran kebijakan moneter jangka pendek," pungkas dia. *04
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar