Di Tengah Gejolak Dunia, Ekonomi Riau Ternyata Tetap Tumbuh 4,94 Persen!

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Riau Triwulan IV Tahun 2025. (ai)

PEKANBARU, RIAUKU.COM - Ekonomi Riau tumbuh 4,94 persen pada Triwulan IV 2025. Capaian itu lebih tinggi dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,52 persen. Di tengah ketidakpastian global, kinerja daerah dinilai tetap terjaga.

Kepala Kanwil DJPb Provinsi Riau, Heni Kartikawati, menyampaikan angka tersebut dalam paparan di Pekanbaru, Rabu, 25 Februari 2026. Ia menggambarkan situasi dunia sedang bergejolak. Ketegangan di Timur Tengah meningkat. Hubungan Amerika Serikat dan Iran memanas. Dinamika geopolitik memberi tekanan pada perdagangan dan harga komoditas.

Riau tetap bertumpu pada struktur lama. Industri pengolahan menyumbang 30,45 persen terhadap produk domestik regional bruto. Pertanian berada di angka 27,96 persen. Pertambangan menyusul 15,03 persen. Lanskap ekonomi daerah masih kental nuansa sumber daya alam.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memegang porsi terbesar 35,18 persen. Ekspor luar negeri menyumbang 30,65 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto berada di angka 30,04 persen. Aktivitas domestik dan perdagangan global menjadi dua penopang utama.

Pertumbuhan kali ini sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya. Namun jaraknya cukup jauh dari capaian akhir 2024. Secara nasional, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39 persen. Riau berada di bawah angka tersebut. Ketergantungan pada sawit, minyak dan gas bumi, serta batu bara membentuk karakter pertumbuhan yang sensitif terhadap fluktuasi harga.

Industri pengolahan di Riau sebagian besar mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Nilai tambah belum maksimal. Rantai produksi belum sepenuhnya bergerak ke hilir. Struktur ini membatasi akselerasi pertumbuhan saat harga komoditas bergerak stagnan.

Harga CPO masih relatif tinggi meski lebih rendah dibanding awal 2025. Permintaan internasional tetap kuat. Pada Triwulan IV, ekspor tumbuh 5,58 persen secara tahunan. PDRB dari sisi ekspor luar negeri meningkat 2,74 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Sawit kembali menjadi jangkar.

Sektor pertambangan menunjukkan tren menurun. Produksi migas dan batu bara terus melemah. Perannya dalam struktur ekonomi menyusut perlahan. Pergeseran ini memunculkan kebutuhan diversifikasi yang lebih cepat.

Untuk Triwulan I 2026, pertumbuhan diperkirakan berada pada kisaran 4,7 hingga 5,2 persen. Proyeksi itu mempertimbangkan stabilitas harga komoditas dan pulihnya aktivitas ekonomi di provinsi tetangga pascabencana hidrologis. Pergerakan logistik dan distribusi pangan mulai normal.

Januari 2026 mencatat deflasi 0,45 persen secara bulanan. Penurunan harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, buncis, telur ayam ras, serta tarif angkutan udara memengaruhi angka tersebut. Pasokan dari Sumatera Barat kembali lancar setelah gangguan sebelumnya.

Di tengah peta global yang berubah cepat, ekonomi Riau bergerak dengan irama sendiri. Struktur berbasis komoditas masih dominan. Pertumbuhan tetap terjaga, meski ruang penguatan nilai tambah dan diversifikasi menjadi pekerjaan yang belum selesai.*01*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.