Tanpa Koalisi, Misi Gibran Tantang Prabowo Bisa Kandas di Tengah Jalan
JAKARTA, RIAUKU.COM - Dukungan Joko Widodo kepada Partai Solidaritas Indonesia dinilai memberi nilai tambah elektoral bagi langkah Gibran Rakabuming Raka menuju Pemilihan Presiden 2029. Namun peluang itu belum cukup menjamin pencalonan berjalan mulus tanpa koalisi besar. Kekuatan infrastruktur politik dan dinamika ambang batas tetap menjadi penentu arah pertarungan.
Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, melihat ruang manuver tetap terbuka. Ia menilai PSI bisa saja menjadi kendaraan politik bagi Gibran untuk maju sebagai calon presiden. Skenario itu muncul setelah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 62/2024 memangkas ambang batas pencalonan presiden menjadi nol persen. Pintu prosedural terbuka. Jalan politik belum tentu lapang.
Berita Terkait
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
- Harga Emas Antam Turun Tipis ke Rp2,992 Juta per Gram
Menurut Efriza, kesiapan PSI secara elektoral dan struktur organisasi masih terbatas. Perolehan kursi di parlemen belum signifikan. Jejaring politik di daerah belum merata. Tanpa dukungan partai lain, pencalonan akan berat. Apalagi jika yang dihadapi adalah petahana.
Nama Prabowo Subianto diperkirakan masih mendominasi peta elektabilitas. Popularitasnya cenderung meningkat seiring status sebagai presiden. Dalam kontestasi nasional, faktor petahana sering menjadi variabel kuat. Mesin partai, akses kekuasaan, persepsi publik, saling menopang.
Efriza juga menilai kemungkinan ambang batas kembali dipertahankan tetap terbuka. Dinamika legislasi dapat berubah. Jika presidential threshold tidak benar-benar nol persen, ruang PSI semakin sempit. Dengan basis kursi minim, partai ini sulit mengusung calon tanpa koalisi.
Ia menyebut pencalonan Gibran secara tunggal berisiko menjadi langkah simbolik. Tanpa aliansi strategis, energi politik bisa habis sebelum hari pemungutan suara. Koalisi menjadi kata kunci. Bukan sekadar tambahan suara, melainkan perluasan legitimasi.
Meski demikian, Efriza tidak menutup peluang PSI memainkan peran penting. Partai ini memiliki ceruk pemilih muda. Figur Jokowi masih menyisakan pengaruh di sebagian segmen masyarakat. Kombinasi keduanya dapat menjadi modal awal membangun poros alternatif.
Tantangan lain muncul dari faktor kejenuhan publik. Dinasti politik kerap menjadi sorotan. Persepsi terhadap keluarga Jokowi bisa memengaruhi elektabilitas Gibran. Menurut Efriza, strategi komunikasi harus disusun hati-hati. Narasi pembaruan perlu diperkuat agar tidak terjebak pada bayang-bayang figur lama.
Menuju 2029, waktu masih panjang. Peta koalisi bisa berubah. Kepentingan partai saling bernegosiasi. Elektabilitas naik turun mengikuti isu nasional. Dalam situasi seperti itu, PSI dituntut memperluas basis dukungan, membangun infrastruktur hingga daerah, merawat hubungan lintas partai.
Pilpres selalu menyisakan kejutan. Dukungan tokoh besar memberi daya dorong, tetapi tidak cukup tanpa konsolidasi mesin politik. Ambang batas bisa menjadi peluang atau penghalang. Di antara kalkulasi angka dan dinamika persepsi, langkah Gibran akan ditentukan oleh kemampuan merajut koalisi yang solid serta membaca arah angin kekuasaan.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar