Misteri Penemuan Air Terjun dan Gua di Kampung Tua Riau
Sebuah pemukiman penduduk di kampung tua yang belum banyak terjamah itu nyata terlihat. Pakaian ala kadarnya, dan berbicara masih dalam komunitas terbatas. Di perkampungan itulah terlihat air terjun tinggi menjulang dan gua yang sangat dalam di tengah Hutan Batang Kapas, Kampar, Riau.
Inilah kisah petualangan tim inovasi SMA 2 Bangkinang meninggalkan jejak, usai menjelajahi Hutan Batang Kapas, dikenal hutan larangan.
Berita Terkait
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
"Di sana alam tetap memberikan sejuta misteri agar manusia lebih mengedepankan akal untuk berpikir. Inilah yang dibaca oleh komunitas kecil, penduduk yang tinggal di tengah," kata Kepala Sekolah SMA 2 Bangkinang, Drs Abdul Latif, saat menceritakan kisahnya setelah penemuan tujuh air terjun dan gua di Kabupaten Kampar.
Perjalanan panjang yang dilakoni tim ekspedisi inovasi, selama 10 hari itu, bukanlah tak berwujud. Apalagi penemuan itu kini menjadi obyek wisata di Kecamatan Lipat Kain dan Koto, Kampar Hulu, Provinsi Riau 2010 lalu, itu tetap menjadi pengalaman yang berharga bagi khalayak ramai. Namun, tak semua yang dilalui itu memberikan angin segar. Banyak umpat atau pun cela.
"Petualangan kami ini dimulai dari niat. Bahwa pelestarian alam dan hutan itu harus dilakukan secara bersinambungan. Banyak bekal yang didapat namun tak sedikit yang menilai hal ini biasa-biasa saja. Tapi kami tetap melakukan petualangan ini lagi," jelas dia.
Lelaki disapa Allatif ini mengisahkan adanya peradaban di sebuah pemukiman penduduk yang belum terjamah. Mengenakan pakaian ala kadarnya, dan berbicara masih dalam komunitas terbatas. Ada isyarat diberikan. Ada petuah yang ditunjuk.
Ini pun diamini Datuk Dalang, tokoh asal Tapung, Kampar mengingatkan bahwa peradaban dalam komunitas kecil dan tersembunyi diakui sulit untuk menerima keadaan yang hampa. Mungkin semua harus dilalui dengan hati yang lapang, bukan sekedar ruang, atau dinding yang membatasi sesak yang terkekang.
"Ini bentuk kerinduan yang menyeluruh kesunyian, mesti harus menggapai waktu yang kian terentang. Ada kalanya semua harus menutup mata dengan tujuan. Inilah yang yakini penduduk itu," kata lelaki yang disapa Encik ini.
Datuk menyebut, adakalanya hidup harus dijujai, dengan bentuk yang tak terbuai. Kini adakah waktu menemani dalam diam yang sunyi. Masih terentang panjang. Mengapa ada ruang, mengapa ada peran yang harus dibuang, atau tak sedap untuk di berikan dengan uang? "Semua tahu. Masih ada rentang itu pada alam. Hingga mereka dapat meraih mimpi itu dalam sunyi yang diam," nukil dia.
Bukan keprihatinan itu yang menyebabkan mereka telaah, tambah Datuk, apa yang mereka sadari, tiba-tiba, menjadi sebuah petuah dalam hidupnya. "Adalah negeri kita. Keprihatinan seperti halnya kebanggaan, juga kecemasan," ingatnya.
Apalagi keindahan panorama alam tujuh air terjun dan gua yang berhasil ditemukan tim inovasi SMA 2 Bangkinang, meninggalkan jejak untuk pembaca alam. Mesti tim tersesat selama 12 jam mencari keindahan, namun rasa penat berjalan kaki menyusuri hutan belantara sudah terobati.
"Bencah itu tak harus dilalui, bila takut berkubang lumpur. Bencah itu sebagai tanda hati, jika ingin hidup terukur. Kini, apakah bencah itu menggurui? Alam tak hendak hidup dalam buaian. Waktu tak harus menuai angan. Mesti goresan hidup telah digariskan. Tinggal menunggu waktu 'kan sampai," petuah dia. (dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar