Rumah Adat Godang Sentajo Melayu Riau Berdiri Sejak 2,5 Abad Silam. Ini Rahasianya?

Rumah Godang Adat Suku Sentajo sebanyak 24 Unit. Kini terdata sudah 27 unit rumah berada di Kenegerian Sentajo di Kecamatan Kuantan Tengah. (ist)

TALUKKUANTAN,RIAUKU.COM - Rumah Godang Adat di Kenegerian Sentajo, Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singigi (Kuansing) sudah berdiri sejak 2,5 abad silam. Kondisi bangunan hingga sekarang masih berdiri tegak, apa rahasianya?

Desain rumah adat Melayu ini dirancang berdasarkan nilai-nilai budaya Melayu menjunjung tinggi adat, agama stempat mayoritas muslim (Islam), dan kehidupan sosial kemasyarakatan.

Hal ini dijelaskan Akademisi dari Fakultas Teknik, Universitas Riau (Unri), Dr. Ir. Muhammad Ikhsan, M.Sc., bahwa prinsip adat yang lama terpatri sejak nenek moyang adalah bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah, sebagai konsep dasar dan filosofi.

"Hal ini tercermin dalam tatanan ruang dan orientasi rumah yang menekankan kesopanan, keteraturan, serta pemisahan ruang berdasarkan fungsi dan etika sosial. Ini konsep dasar dan filosofi," terang dia.

Akrab disapa Dr Ikhsan ini memaparkan bahwa, Rumah adat tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga sebagai simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan. 

Yang terpenting, jelas dia, dalam analisis desain Rumah Adat Melayu dengan pendekatan akademik mencakup aspek antropologis, arsitektural, dan simbolik, adalah 1. Konsep Dasar dan Filosofi, 2. Tata Ruang dan Hierarki Ruang, 3. Bentuk Arsitektural dan Struktur Bangunan, 4. Material dan Teknologi Tradisional, 5. Ornamen dan Simbolisme, 6. Relasi Sosial dan Fungsi Budaya, 7. Adaptasi dan Keberlanjutan.

Kedua, kata Dr Ikhsan, adalah Tata Ruang dan Hierarki Ruang, secara umum, Rumah Adat Melayu memiliki pembagian ruang yang hierarkis, yang mencerminkan struktur sosial dan norma adat masyarakat Melayu, antara lain:

"Serambi (selasar) sebagai ruang transisi dan ruang publik untuk menerima tamu, mencerminkan keterbukaan sosial namun tetap menjaga batas etika," sebut Dr Ikhsan juga dikenal tenaga ahli infrastruktur di Riau.

Ahli struktur bangunan ini, melanjutkan ada sisi ruang tengah (rumah ibu) sebagai ruang semi privat yang berfungsi untuk aktivitas keluarga dan upacara adat tertentu. Selain itu ada ruang belakang (dapur) sebagai ruang privat, khususnya untuk aktivitas domestik, yang umumnya diperuntukkan bagi perempuan.

"Hierarki ruang ini menunjukkan adanya pengaturan interaksi sosial yang jelas antara tamu dan anggota keluarga, sejalan dengan norma kesopanan dalam budaya Melayu," kata lelaki yang juga mantan Dekan Fakultas Teknik di Universitas Muhammadiyah Riau.

Ketiga adalah Bentuk Arsitektural dan Struktur Bangunan, umumnya berbentuk rumah panggung, yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan tropis dan wilayah pesisir atau rawa. Struktur panggung berfungsi untuk menghindari banjir dan kelembapan, meningkatkan sirkulasi udara, melindungi dari binatang liar.

"Nah, jenis atap rumah biasanya berbentuk limas atau lipat kajang, dengan kemiringan curam untuk memudahkan aliran air hujan. Bentuk atap juga memiliki makna simbolik sebagai pelindung kehidupan keluarga," jelas dia.

Keempat, kata Dr Ikhsan adalah Material dan Teknologi Tradisional, yang digunakan pada Rumah Adat Melayu berasal dari sumber daya lokal, seperti kayu, papan, dan atap rumbia atau nipah. Penggunaan material lokal mencerminkan, seperti kearifan lokal dalam memanfaatkan lingkungan, pengetahuan teknis tradisional, prinsip keberlanjutan (sustainable architecture).

"Sistem sambungan kayu tanpa paku menunjukkan kecanggihan teknologi tradisional serta fleksibilitas struktur terhadap perubahan cuaca dan gempa ringan." uangkap Ikhsan.

Kelima, Ornamen dan Simbolisme pada Rumah Adat Melayu memiliki makna simbolik yang kuat, antara lain motif flora (pucuk rebung, bunga tanjung) melambangkan pertumbuhan, kesucian, dan keharmonisan hidup. Ukiran geometris mencerminkan ketertiban dan keseimbangan. 

"Ornamen ditempatkan pada ventilasi, pagar tangga, dan lisplang atap, sekaligus berfungsi sebagai elemen estetika dan penghawaan alami," ungkap dia.

Keenam adalah Relasi Sosial dan Fungsi Budaya, lanjut dia. Adalah rumah Adat Melayu berfungsi sebagai ruang berlangsungnya aktivitas sosial dan adat, seperti musyawarah keluarga, kenduri, dan ritual adat.

Ketujuh, Adaptasi dan Keberlanjutan, lanjut dia. Meskipun mengalami adaptasi terhadap material modern dan kebutuhan kontemporer, prinsip dasar desain Rumah Adat Melayu relatif tetap dipertahankan.

"Ini menunjukkan arsitektur tradisional Melayu bersifat adaptif tanpa kehilangan identitas budaya, sehingga relevan dalam diskursus pelestarian budaya dan pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal," jelas Dr Ikhsan.

Diketahui, dalam perspektif Koentjaraningrat, rumah adat sebagai artefak budaya merefleksikan sistem nilai dan pranata sosial yang masih hidup.

Sementara itu, menurut Rapoport, desain rumah adat dipengaruhi oleh pola perilaku dan budaya masyarakat, sehingga bentuk dan tata ruang Rumah Adat Melayu merupakan ekspresi langsung dari kehidupan sosial masyarakat Melayu.

Rumah Godang (besar) Adat Suku Sentajo masih berdiri tegak sebanyak 24 Unit. Kini terdata sudah 27 unit rumah. Rumah Godang ini berada di Kenegerian Sentajo di Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau. Desa Sentajo ini dijuluki sebagai Desa Cagar Budaya. *04

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.