Pemerintah Jamin Stok Beras Indonesia di Tengah Konflik Timur Tengah
JAKARTA,RIAUKU.COM - Pemerintah memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman untuk memenuhi selama Bulan Suci Ramadan. Bahkan pemerintah menjamin mesti terjadi kekisruhan di Timur Tengah.
Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari mengatakan, guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjalankan program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah.
Berita Terkait
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Harga Emas Antam Turun Tipis ke Rp2,992 Juta per Gram
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Hingga 8 Maret 2026, penyaluran beras SPHP telah mencapai 7.387.270 kilogram, dengan distribusi terbesar melalui instansi pemerintah dan program Rumah Pangan Kita (RPK).
"Per 9 Maret 2026, ini update-nya teman-teman, stok beras tercatat mencapai 3.743.780 ton atau sekitar 144% dari kebutuhan, sehingga komunitas beras ini adalah cadangan yang paling kuat,” kata dia kepada wartawan di Gedung Bina Graha, Komplek Istana Negara, Rabu (11/3/2026).
Selama ini, kata dia, berbagai program yang dijalankan Prabowo terkait penguatan ketahanan pangan pada dasarnya memang dirancang sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi krisis, baik krisis bencana maupun krisis global.
"Artinya, pemerintah tidak menunggu krisis terjadi, tetapi sudah menyiapkan pondasi agar ketika ada gejolak internasional, termasuk konflik regional, seperti yang sekarang sedang terjadi di Timur Tengah, Indonesia memiliki ketahanan pangan yang kuat,” katanya dilansir liputan6.
Pemerintah Jamin Swasembada Beras
Terlebih mengingat, pada 7 Januari 2026, Prabowo Subianto mengumumkan keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras. Pencapaian tersebut merujuk pada data Badan Pusat Statistik yang mencatat produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton, melampaui kebutuhan domestik yang berkisar 31,08 juta ton.
Produksi beras tersebut meningkat 13,36% atau sekitar 4 juta ton dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 30,62 juta ton untuk konsumsi pangan penduduk. Pemerintah menilai capaian ini sebagai momentum penting dalam memperkuat kemandirian pangan nasional.
Per Maret 2026, total ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai 27,9 juta ton, yang terdiri dari stok Perum Bulog sekitar 3,76 juta ton dan diproyeksikan meningkat hingga 5 juta ton dalam dua bulan ke depan, stok kebutuhan masyarakat sekitar 12,5 juta ton, serta standing crop padi siap panen sebesar 11,73 juta ton.
Dengan kondisi tersebut, tanpa memperhitungkan panen berikutnya sekalipun, ketersediaan beras nasional diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.
"Angka tersebut bukan berarti stok akan habis setelah 11 bulan, karena produksi dan panen terus berlangsung sehingga cadangan akan terus terisi,” tegas dia.
Pemerintah Jaga Pasokan Domestik
Selain menjaga pasokan domestik, Indonesia juga mulai memperluas pasar ekspor. Pada awal Maret 2026, Indonesia mengekspor 2.280 ton beras ke Arab Saudi dengan estimasi nilai transaksi mencapai Rp38 miliar.
Keberhasilan swasembada pangan juga tercermin dari peningkatan produksi sejumlah komoditas strategis lainnya. Pada 2025, produksi jagung mencapai 16,16 juta ton, meningkat 6,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi gula konsumsi nasional juga naik menjadi 2,68 juta ton, sementara cabai besar mencapai 1,6 juta ton dan cabai rawit 1,78 juta ton. *04
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar